
FLORIDA — Umat manusia akhirnya kembali menatap Bulan dari jarak dekat. Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) resmi menorehkan tinta emas dalam sejarah eksplorasi luar angkasa modern setelah sukses menyelesaikan misi berawak Artemis II.
Keberhasilan misi ini mengakhiri penantian panjang selama lebih dari 50 tahun sejak berakhirnya era program Apollo pada awal 1970-an, sekaligus membuka lembaran baru bagi ambisi manusia untuk menaklukkan tata surya.
Perjalanan bersejarah ini dimulai pada 1 April 2026. Menggunakan roket raksasa Space Launch System (SLS) yang diklaim sebagai roket paling kuat di dunia, misi Artemis II meluncur dengan mulus dari Kennedy Space Center, Florida.
Kapsul antariksa Orion yang berada di ujung roket tersebut membawa empat orang astronaut terpilih—terdiri dari tiga astronaut asal Amerika Serikat dan satu astronaut asal Kanada. Selama kurang lebih 10 hari, keempat awak ini mengukir sejarah dengan terbang mengelilingi orbit Bulan, menguji sistem pendukung kehidupan kapsul Orion di lingkungan luar angkasa dalam (deep space) yang ekstrem.
Setelah menyelesaikan misinya melintasi sisi jauh Bulan, kapsul Orion melakukan perjalanan pulang ke Bumi dan berhasil melakukan splashdown (pendaratan di air) dengan sangat sempurna di perairan Samudra Pasifik pada Jumat, 10 April 2026. Keempat astronaut dilaporkan kembali dalam kondisi sehat dan aman.
Fokus NASA kini beralih pada pengumpulan data pasca-penerbangan. Saat ini, para insinyur antariksa tengah menganalisis secara ketat performa pesawat Orion selama penerbangan, dengan fokus utama pada ketahanan pelindung panas (heat shield) saat kapsul tersebut menembus atmosfer Bumi dengan kecepatan luar biasa tinggi.
Kesuksesan misi penerbangan Artemis II bukanlah garis akhir, melainkan sebuah lompatan awal yang sangat krusial. Data dan evaluasi dari misi ini akan menjadi fondasi mutlak bagi NASA untuk mengeksekusi misi selanjutnya: Artemis III.
Direncanakan meluncur pada tahun depan, Artemis III akan membawa misi yang jauh lebih ambisius, yaitu mendaratkan manusia kembali di permukaan Bulan, termasuk astronaut perempuan dan kulit berwarna pertama. Lebih jauh lagi, program Artemis secara keseluruhan dirancang sebagai fasilitas uji coba untuk teknologi dan daya tahan manusia, yang kelak akan digunakan untuk mewujudkan misi jangka panjang pengiriman manusia pertama ke planet Mars.
Advertisement